Showing posts with label Budidaya Perkebunan. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Perkebunan. Show all posts

Monday, February 14, 2011

Pedoman Teknis Daerah Gernas Kakao

PEDOMAN TEKNIS DAERAH
Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional


BAB I.
PEREMAJAAN TANAMAN

1.       Pendahuluan
Pada tahun 2008 diidentifikasi bahwa sekitar 70.000 Ha kebun kakao  di  sentra  produksi  kakao,  kondisi  tanamannya  sudah tua/rusak,  tidak  produktif  dan  terserang  berat  hama  dan penyakit  sehingga  perlu  dilakukan  peremajaan  tanaman secara bertahap.
Pada  tahun 2009 melalui Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu  Kakao  Nasional  akan  dilakukan  peremajaan  tanaman seluas  20.000 Ha  di  9 Provinsi  pelaksana Gerakan. Sebagai kompensasi  bagi  petani  peserta,  maka  diberikan  bantuan benih  jagung  untuk  ditanam  di  areal  kakao  seluas  yang diremajakan.  Dalam  rangka  melaksanakan  peremajaan  tanaman  perlu ditetapkan Pedoman Teknis sebagai acuan  teknis bagi Dinas Provinsi  yang  membidangi  perkebunan  dalam  menyusun Petunjuk  Pelaksanaan  (Juklak)  yang  selanjutnya  dipedomani oleh  Dinas  Kabupaten/Kota  yang  membidangi  perkebunan dalam  menyusun  Petunjuk  Teknis  (Juknis).  Bila  kegiatan dialokasikan di Provinsi, maka Juklak dan Juknis disusun oleh Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan.
2.  Tujuan
Memperbaiki  kondisi  kebun  yang  tanamannya  sudah  tua, rusak,  tidak  produktif,  dan  terserang  berat  oleh  hama  dan penyakit.
3.  Sasaran
Kebun  kakao  yang  tanamannya  sudah  tua,  rusak,  tidak produktif,  dan  terserang  berat  hama  dan  penyakit  seluas 20.000  ha  di  9 Provinsi  yang  tersebar  di  39 Kabupaten/Kota pelaksana  Gerakan  Peningkatan  Produksi  dan  Mutu  Kakao Nasional.

Unduh Pedum Gernas Kakao Selengkapnya

MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET

MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET


Chairil Anwar
Pusat Penelitian Karet
P.O. Box 1415, Medan 2001

  
PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.   Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada  tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004.  Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta.  Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta  ton.  Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui  perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan.  Guna mendukung hal
ini, perlu diadakan bantuan yang bisa  memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.                    (Disampaikan pada pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” tanggal 18 Mei 2006, di Jakarta  oleh PT. FABA Indonesia Konsultan)

Pada makalah ini disajikan, (i) prospek dan peluang pasar komoditi karet alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun 2035,  (ii) manajemen dan teknologi budidaya karet, yang meliputi syarat tumbuh tanaman karet berdasarkan iklim dan  dan  kesuburan tanah, klon karet  rekomendasi dan teknik budidaya karet lainnya dari mulai tanam sampai panen, dan (iii) kebutuhan investasi pengusahaan kebun karet  dalam bentuk analisis kelayakan finansial.

PROSPEK DAN PELUANG PASAR
Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan,  conveyor belt, sabuk transmisi,  dock fender, sepatu  dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia.  Kebutuhan  karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan  baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan. 
Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan  Brazil, memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang relatif stagnan. 
Menurut perkiraan International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michellin.  Sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk  Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.
Hasil studi REP meyatakan bahwa  permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.  Produksi karet alam pada tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton.  Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% dan Malaysia -2%.  Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui peremajaan atau penaman baru karet yang cukup besar, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta ton.
Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mendekati harga US$ 1.00/kg, dan sampai sekarang ini telah mencapai US$ 1.90kg untuk harga SIR 20 di SICOM Singapura.  Diperkirakan harga  akan mencapai US$ 2.00 pada tahun 2007 dan pada jangka panjang  sampai 2020 akan tetap stabil, dikarenakan permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.



TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET
Untuk membangun kebun karet diperlukan manajemen dan teknologi budidaya tanaman karet yang mencakup, kegiatan sebagai berikut: 
•  Syarat tumbuh tanaman karet
•  Klon-klon karet rekomendasi
•  Bahan tanam/bibit
•  Persiapan tanam dan penanaman
•  Pemeliharaan tanaman: pengendalian gulma, pemupukan dan  pengendalian penyakit
•  Penyadapan/panen

1.  Syarat Tumbuh Tanaman Karet
Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya.  
a. Iklim 
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU.  Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat.  
    Curah hujan 
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun demikian,  jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang.
    Tinggi tempat 
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut.  Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet.
  Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C sampai 350C.
    Angin 
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet


b. Tanah 
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah  dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m.  Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik  karena kandungan haranya rendah. 
Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3,  0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH  < 3,0 dan > pH 8,0.  Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada   umumnya antara lain :
  -     Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan   lapisan cadas
  -     Aerase dan drainase cukup
  -     Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
  -     Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
  -     Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm
  -     Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara  mikro
  -     Reaksi tanah dengan pH 4,5 - pH 6,5
  -     Kemiringan tanah < 16% dan
  -     Permukaan air tanah < 100 cm.

2.  Klon-klon Karet Rekomendasi
Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya.  Pemerintah  telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar  3 - 4 juta ton/tahun pada tahun 2025.
Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila minimal 85% areal kebun   6 karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul. Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu.  Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005,  telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya.  Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan. 
Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupun sistem pengelolaannya.  Klon GT 1 dan RRIM 600  di berbagai lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun  Colletotrichum dan  Corynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR  255, PR 261 memiliki masalah dengan mutu lateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk jenis produk karet tertentu. Klon PB 260 sangat peka  terhadap kekeringan alur sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu  pengelolaanya harus dilakukan secara tepat.

Selengkapnya bisa diunduh disini
Unduh juga Karet Yang Elastis dan Dinamis  

Wednesday, October 27, 2010

Karet IRR 39

Kemajuan produksi tanaman karet terus, meningkat sejalan dengan ditemukannya beberapa klon-klon unggul karet selama tiga siklus periode seleksi.  Diharapkan dengan penggunaan klon unggul baru produktivitasnya dapat ditingkatkan sampai 4 – 5 kali lipat yaitu dari bahan tanam berupa seedling yang produktivitasnya hanya 500 kg/ha/th menjadi 2000 kg/ha/th.
 Pemuliaan karet di Indonesia saat ini telah memasuki periode atau siklus generasi yang keempat. Berdasarkan pengelompokan yang telah dilakukan oleh Azwar dan Suhendry (1992 dan 1998) maka dapat dilihat pembagian tahapan atas generasi sebagai berikut :
·         Generasi I (< 1930) )                  : seedling terpilih
·         Generasi II (1930 – 1960)          : AVROS 2037, PIL-B 84, PB 86, Tjir 1, GT 1, LCB 1320, LCB 479, PR 107, WR 101
·         Generasi III (1983 – 1992)          :  PR 255, PR 261, PR 228, PR 300, PR 303, RRIM 600, BPM 1 dan seri TM.
·         Generasi IV (1993 – sekarang)  :  BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, PB 217, PB 330, RRIC 100, RRIM 712 dan klon-klon seri IRR
Pada siklus keempat (G-4) klon-klon yang dihasilkan merupakan hasil penggabungan antara klon-klon hasil seleksi G-2 dengan G-3 atau sebaliknya.  Klon IRR seri 100 merupakan salah satu klon yang dihasilkan pada  G-4 yang produktivitasnya dapat mencapai 2500 kg/ha/tahun.  Salah satu klon IRR seri 100 yang mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan yaitu : IRR 118.
Undang-undang No. 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, mengelompokan rekomendasi klon menjadi dua kelompok yaitu
-          Klon anjuran komersial adalah klon unggul anjuran yang dikembangkan secara komersial yang disebut sebagai Benih BIna, pelepasannya melalui SK Menteri.
-          Klon harapan adalah klon-klon yang pada uji pendahuluan menunjukkan sifat lebih baik dari klon anjuran komersial, tetapi masih terbatas pengujiannya. 
POTENSI KEUNGGULAN
Produksi :
Rata-rata produktivitas 5 tahun tanpa menggunakan stimulan ± 2138 kg/ha/th, di atas klon pembanding PR 261 dan RRIC 100 masing-masing 152% dan 179% secara berturut-turut.  Dan relatif hampir sama  dengan produktivitas PB 260 (102%).  Evaluasi potensi produksi telah dilakukan dikebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, seperti yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata produktivitas tanpa stimulan klon IRR 118 dibanding PR 261, PB 260 dan RRIC 100
Klon
Produksi g/p/s (kg/ha/th)
Rata-rata
% tase terhadap
1
2
3
4
5
PR 261
PB 260
RRIC 100
IRR 118
33,7
(1415)
48,8
1630)
63,6
(2671)
56,5
(2543)
54,0
(2430)
49,3
(2138)
152
102
179
PR 261
29,5
1230
32,7
(1373)
31,0
(1302)
37,3
(1679)
32,5
(1463)
32,6
(1411)
-
-
-
PB 260
40,2
(1688)
32,7
(1373)
31,0
(1302)
51,0
(2295)
43,1
(1935)
46,4
(2087)
-
-
-
RRIC 100
20,9
(878)
30,9
(1298)
20,9
(878)
24,9
(1571)
30,0
(1350)
27,5
(1195)
-
-
-
Ket :    - Tahun 1 s.d 3 sistem sadap 1/2S d/3 (120 hari , 350 pohon
            - Tahun 4 s.d 5, sistem sadap 1/2S d/3 (150 hari : 300 pohon)

Sedangkan rata-rata produktivitas 5 tahun I – sadap dengan mengunakan stimulan ± 2112 kg/ha/th, di atas klon pembanding PR 261 dan RRIC 100 masing-masing 150% dan 140%.  Bila dibanding dengan PB 260, potensi produksi dengan penggunaan stimulan sedikit di bawah yaitu 90%. Demikian juga evaluasi dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, seperti data yang telah disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Potensi produksi klon IRR 118 dengan stimulan dibanding PR 261, PB 260, RRIC 100.
Klon
Produksi g/p/s (kg/ha/th)
Rata-rata
% tase terhadap
1
2
3
4
5
PR 261
PB 260
RRIC 100
IRR 118
41,7
1751
39,3
(1651)
46,7
(1961)
62,4
(2808)
48,6
(2087)
47,7
(2112)
150
90
140
PR 261
31,9
(1340)
32,6
(1389)
25,2
(1058)
43,7
(1967)
28,8
(1296)
32,4
(1410)
-
-
-
PB 260
46,6
(1957)
48,2
(2024)
61,1
(2566)
67,9
(3056)
48,3
(2174)
54,4
(2355)
-
-
-
RRIC 100
26,6
(1117)
25,7
(1499)
29,9
(1256)
43,3
(1949)
37,9
(1706)
34,7
(1505)
-
-
-
Ket :    - Tahun 1 s.d 3 sistem sadap 1/2S d/3 (120 hari , 350 pohon)
            - Tahun 4 s.d 5, sistem sadap 1/2S d/3 (150 hari : 300 pohon)

Pertumbuhan : 
Rata-rata pertumbuhan lilit batang klon IRR 118 pada saat TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) dan TM (Tanaman Menghasilkan) datanya telah disajikan pada Tabel 3.  Berdasarkan data tersebut, lilit batang klon IRR 118 di atas klon pembanding PR 261 sebesar 121%. Sedangkan pertumbuhan lilit batang IRR 118 relatif sama dengan PB 260 dan RRIC 100 yaitu 102% dan 108%.  Dan laju pertumbuhan lilit batangnya per tahun relatif sama dengan PB 260 dan RRIC 100 yaitu ± 4 cm.  Perkembangan lilit batang di saat TM klon IRR 118 masih tetap jagur dibanding PR 261 dan RRIC 100 yaitu 116% dan 107% secara berturut-turut.
Dari ketiga lokasi (Tabel 3) yang digunakan untuk pengujian terlihat klon IRR 118 tumbuh jagur.  Hal ini memberikan suatu indikasi bahwa klon IRR 118 mempunyai performance atau penampilan yang stabil di berbagai lokasi.

Tabel 3. Perkembangan lilit batang klon IRR 118 dibanding PR 261, PB 260, dan RRIC 100
Klon
Lilit batang (cm)
Laju pertumbuhan cm/tahun
TBM
T M
2,0
3,0
4,0
5,0
6,0
7,0
8,0
9,0
TBM
TM
S. Putih
IRR 118
PR 261
PB 260
RRIC 100

20,4
18,5
19,2
15,8

39,9
33,0
32,9
35,7

48,9
40,3
47,9
45,1

52,5
43,4
50,1
48,7

55,5
47,6
59,8
25,2

60,5
51,7
64,4
56,6


64,6
55,4
69,4
60,9

66,7
57,5
72,0
62,6

14,3
10,9
14,4
14,7

3,7
3,8
5,5
3,5
Ambalutu
IRR 118
PR 261
PB 260


16,1
11,7
14,3

29,0
22,4
28,8

42,9
34,4
42,1

-
-
-

-
-
-

-
-
-

-
-
-

-
-
-

13,4
11,4
13,5


-
-
-
P. Pinang
IRR 118
PR 261
PB 260


14,4
11,7
14,3

28,5
22,4
26,1

44,5
34,4
41,2

-
-
-

-
-
-

-
-
-

-
-
-

-
-
-

15,1
12,8
14,2

-
-
-

Berdasarkan laju pertumbuhan di saat TBM klon IRR 118 yaitu > 13 cm per tahun, maka klon tersebut dikelompokkan pada pertumbuhan batang cepat atau masa TBM singkat sehingga penyadapan dapat dilakukan < 4 tahun.  Dan pertumbuhan di saat TM setiap tahunnya pertambahannya 3,7 cm maka dapat dikategorikan sebagai klon yang mempunyai potensi biomassa sedang (100 – 200 m3/ha). 
Dari pertumbuhan di saat TBM dan TM memperlihatkan, bahwa klon IRR 118 disamping penghasil laeks, juga merupakan klon penghasil kayu.  Volume kayu yang dihasilkan pada umur 7,5 tahun sekitar 0,09 m3, batangnya lurus, silindris, dan halus permukaaanya.

Ketahanan Penyakit :
Ketahanan penyakit klon IRR 118 terhadap Corynespora dan Colletotrichum disbanding klon pembanding masih lebih baik di ketiga lokasi pengamatan, seperti yang telah disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4.  Ketahanan klon IRR 118 terhadap penyakit gugur daun
Klon
Corynespora
Colletotrichum
A
PP
SP
Rata-rata
A
PP
SP
Rata-rata
IRR 118
0,40
1,60
0,0
0,67
16,83
11,00
6,00
11,28
PB 260
0,00
0,00
0,00
0,00
16,17
11,13
3,33
10,21
PR 261
2,00
5,20
0,00
2,40
14,1
15,17
-
12,67

Ket : A = Ambalutu, PP = Paya Pinang dan SP = Sungei Putih

Mutu Lateks dan Sifat Karet :
Pengelompokan mutu lateks dan sifat karet dilakukan oleh Anas (1999) yang bertujuan untuk mempermudah pilihan klon-klon harapan yang memiliki nilai karakteristik yang dapat diolah menjadi karet dengan mutu tertentu.  Berdasarkan mutu lateks dan  sifat karet klon IRR 118 dapat digunakan untuk produksi SIR 3 CV dan produk RSS, disamping juga produk SIR 3L, SIR 5 dan SIR 10/20.

DISKRIPSI KLON IRR 118
1.   Helaian daun                                         
      a.   Warna                                        :     hijau muda
      b.   Kilauan                                       :     kusam
      c.   Tekstur                                       :     halus
      d.   Kekakuan                                   :     agak kaku          
      e.   Bentuk                                        :     agak bulat telur (agak oval)
      f.    Pinggir daun                               :     rata
      g.   Penampang memanjang           :     rata
      h.   Penampang melintang               :     rata
      i.    Posisi helaian daun                    :     terpisah
      j.    Simetris daun pinggir                 :     simetris
      k.   Ukuran daun                               :     2,4 : 1
      l.    Ujung daun                                 :     sedang

2.   Anak tangkai daun                           
      a.   Posisi                                         :     mendatar
      b.   Bentuk                                        :     lurus
      c.   Panjang                                      :     sedang
      d.   Sudut                                          :     sedang

3.   Tangkai daun
      a.   Posisi                                         :     mendatar
      b.   Bentuk                                        :     lurus
      c.   Panjang                                      :     sedang
      d.   Ukuran kaki                                :     sedang
      e.   Bentuk kaki                                 :     rata – agak berlekuk

4.   Payung daun
      a.   Bentuk                                        :     kerucut
      b.   Besar                                         :     agak besar
      c.   Kerapatan permukaan               :     terbuka
      d.   Jarak antar payung                    :     sedang

5.   Mata
      a.   Letak mata                                 :     rata
      b.   Bekas tangkai daun                   :     tebal

6.   Kulit batang                                     
      a.   Corak kulit gabus                       :     sempit, tidak teratur
      b.   Warna kulit gabus                      :     coklat

7.   Warna lateks                                    :     putih

HISTORI PERAKITAN
Klon IRR 118 adaslah klon yang berasal dari persilangan antara induk betina LCB 1320 x Fx 2784 di kebun percobaan Sungei Putih pada tahun 1985.  Persilangan dilakukan pada pohon yang dipendekkan di Kebun Persilangan (Block hybriditation). Pemilihan induk didasarkan kepada produksi tinggi, jagur dan ketahanan penyakit daun utama.
Seleksi dilakukan terhadap hasil persilangan tahun 1985 s.d 1989 pada tahun 1991/92. Sejumlah 583 genotipe yang digunakan sebagai materi genetic yang ditanam di kebun bibitan dengan jrak tanam 1 x 1 m.  Parameter yang digunakan dalam seleksi adalah : produksi, pertumbuhan (lilit batang), jumlah dan diameter pembuluh lateks, dan ketahanan terhadap penyakit.
Genotipe-genotipe terbaik dipilih 10% untuk pengujian pendahuluan dan 1% hasil seleksi masuk ke pengujian plot promosi. Genotipe –genotipe terseleksi diperbanyak dengan okulasi dan digunakan sebagai materi genetik untuk tahap pengujian selanjutnya.
Pada pengujian plot promosi klon IRR 118 yang diuji dengan 4 klon pembanding : PR 261, PB 255, PB 260, dan RRIC 100.   Disain yang digunakan Simple Latice Disain.  Parameter yang diamati adalah produksi (stimulan dan tanpa stimulan) pada bidang BO-I, pertumbuhan, ketahanan penyakit, dan mutu lateks sertasifat karet.  Dari 21 klon yang diuji terseleksi diantaranya klon IRR 118.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Evaluasi untuk pengujian klon IRR 118 dibangun di beberapa lokasi diantaranya :
Pengujian lanjutan :
-          Ambalutu à tinggi tempat 75 m dari permukaan laut; curah hujan 2800 mm/th
(Swasta)
-          Paya Pinang à tinggi tempat 20 m dari permukaan laut; curah hujan 1700 mm/th
(Swasta)
-          Sungei Putih à tinggi tempat 80 m dari permukaan laut; curah hujan 1962 mm/th
(PTPN III)
Pengujian  adaptasi
-          Gunung Tua    curah hujan 1500 – 2200 mm/th, bulan kering panjang 3
(K. Rakyat)           – 4 bulan, tingkat kesuburan tanah rendah.
-          Batang Toru     curah hujan sangat tinggi (2500 – 5000 mm/th)
(K. Rakyat)           ketinggian tempat 500m dari permukaan laut, tekstur tanah padat
 
Dari hasil evaluasi padas berbagai agroekosistem seperti yang tersebut di atas, klon IRR 118 memperlihatkan kinerja dan produktivitas yang tinggi.  Pada saat ini IRR 118 telah direkomendasikan sebagai klon penghasil lateks-kayu untuk pertanaman komersial.